Jumat, 04 September 2009

ISLAM DAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA

  ISLAM DAN TOLERANSI ANTAR  UMAT BERAGAMA
Perspektif ajaran Islam tentang toleransi antar umat beragama terkait erat dengan doktrin Islam tentang hubungan antara sesama umat manusia dan hubungan Islam dengan agama-agama lain. Perspektif Islam tentang toleransi beragama sebenarnya bukan berangkat dari aspek teologis semata, tetapi juga berpijak pada aspek kemanusiaan itu sendiri, sementara di sisi lain juga tidak mengabaikan pengalaman historis manusia dalam pergaulan hidup, terutama dalam kehidupan beragama.Seperti agama-agama lain, Islam memang memiliki klaim-klaim ekslusif, terutama menyangkut wilayah keimanan (baca: tauhid). Akan tetapi, disamping klaim-klaim ekslusif, Islam juga memberikan penekanan khusus pada klaim inklusivisme keagamaan, sebagaimana akan kita lihat. Inklusivisme demikian sebenarnya memiliki akar teologis pada adanya satu Tuhan, satu kebenaran, dan satu asal usul manusia. Menurut Islam, manusia berasal dari satu asal yang sama, yakni Adam dan Hawa. Kendati berasal dari nenek moyang yang sama, lalu kemudian manusia menjadi bersuku-suku, berkaum-kaum, dan berbangsa-bangsa, dengan kebudayaan dan peradaban yang berbeda-beda. Perbedaan demikian justru mendorong mereka untuk saling mengenal, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran:”Hai Manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat 49:13)Dengan demikian, menurut ajaran Islam, meskipun manusia memiliki perbedaan-perbedaan budaya, bahasa, warna kulit, kepercayaan, dan sebagainya, sebenarnya mereka adalah satu umat. Al-Quran menyatakan:”Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya 21:92).Jadi , perspektif ”kesatuan umat manusia” memiliki akar yang kuat dalam ajaran Al-Quran. Perspektif itu selanjutnya berkembang menjadi ”solidaritas antarmanusia” (ukhuwwah insaniyyah atau ukhuwwah basyariyyah).Dalam satu rumpun umat manusia, Allah menurunkan satu kebenaran universal melalui Kitab-kitab Suci dan para rasul-Nya. Akan tetapi, ketika kebenaran universal itu diterapkan dalam ruang waktu terbatas, kebenaran itu ditanggapi berbeda oleh manusia dengan pemahamannya sendiri-sendiri, maka terjadilah perbedaan penafsiran, yang kemudian menjadi menajam dengan masuknya berbagai vested interest akibat hawa nafsu. Inilah yang disanyalir oleh Al-Quran:”Sesungguhnya manusia adalah umat yang satu, kemudian Allah mengutus para nabi yang membawa kabar gembira dan memberi peringatan, dan Dia menurunkan bersama para nabi itu Kitab Suci untuk menjadi pedoman bagi manusia berkenaan dengan hal-hal yang mereka perselisihkan; dan tidaklah berselisih tentang hal itu melainkan mereka yang telah menerima Kitab Suci itu sesudah datang kepada mereka berbagai keterangan, karena persaingan antara mereka.” (QS. Al-Baqarah 2:213).Memang Allah memberikan petunjuk kebenaran kepada manusia, tetapi Dia juga memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada mereka untuk mempercayai atau mengingkarinya. Namun, segala pilihan itu wajib mengandung resiko tanggung jawab. Al Quran menyatakan:”Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka.” (QS. Al-Kahf 18:29).Allah tidak memaksakan kehendakNya kepada manusia, karena hasil paksaan hanyalah kepura-puraan dan hal demikian bertentangan dengan fitrah (watak bawaan) manusia. Karena itu, Allah berfirman:” Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman segala orang yang di muka bumi. Maka apakah kamu (hendak) memaksakan manusia supaya menjadi orang –orang beriman semuanya?” (QS. Yunus 10:99).Jika Allah sendiri bersikap amat toleran terhadap segenap manusia, maka manusia pun harus bersikap toleran terhadap sesamanya. Dari itu, Islam memandang pemaksaan agama kepada orang lain adalah sikap yang keliru.”Tidak ada paksaan dalam menganut agama. Sesungguhnya telah jelas antara yang benar dan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah 2:256).Dari itu, tugas rasul hanya menyampaikan seruan:”Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi kitab dan kepada orang-orang yang ummi. Apakah kamu mau masuk Islam. Jika mereka masuk Islam, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanya menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hambaNya.” (QS. Al-’Imran 3:20).Sehubungan dengan itu, Islam tentu saja mewajibkan kepada para pemeluknya untuk menyampaikan pesan-pesan Islam melalui dakwah, sebagaimana dianjurkan Al-Quran:”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran-pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik!” (QS. An-Nahl 16:125).Akan tetapi, panggilan demikian tidak boleh dilakukan dengan melibatkan pemaksaan.Disebabkan adanya prinsip-prinsip di atas, maka Al-Quran mengajarkan paham kemajemukan keagamaan (religious plurality). Ajaran ini tidak perlu diartikan sebagai secara langsung pengakuan akan kebenaran semua agama dalam bentuknya yang nyata sehari-hari. Akan tetapi, ajaran kemajemukan keagamaan itu menandaskan pengertian dasar bahwa semua agama diberi kebebasan untuk hidup, dengan resiko yang akan ditanggung oleh para penganut agama itu masing-masing, baik secara pribadi maupun secara kelompok. Sikap ini dapat ditafsirkan sebagai suatu harapan kepada semua agama yang ada, yang pada mulanya menganut prinsip adanya satu kebenaran, untuk saling berdamai dan saling berlapang dada dalam berbagai lapangan kehidupan. Dalam konteks ini, Islam sangat menekankan kepada para penganutnya untuk mengembangkan common platform, yang dalam istilah al-Quran disebut ”kalimatun sawa”, sebagaimana hal itu diisyaratkan ke dalam perintah Allah swt. kepada RasulNya, Nabi Muhammad Saw.:”Katakanlah olehmu (Muhammad), ’Wahai Ahli Kitab, marilah menuju ke titik pertemuan (kalimatun sawa’) antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak pula mempersekutukan-Nya kepada apa pun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai ”tuhan-tuhan” selain Allah.” (QS. Al-Imran 3:64)Jadi, common platform itu hendaklah dibangun di atas keimanan yang benar, yakni tauhid, keesaan Tuhan. Dari dasar inilah selanjutnya dikembangkan titik-titik dalam berbagai lapangan kehidupan. Dengan mengembangkan titik-titik temu, bukan perbedaan, akan dapat diciptakan kehidupan bersama yang toleran, saling menghargai, dan saling mempercayai.Bahkan, Al-Quran mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. dan umatnya untuk menyampaikan kepada penganut agama lain, setelah kalimatun sawa’ tidak dicapai:”Kami atau kamu pasti berada dalam kebenaran atau kesesatan yang nyata. Katakanlah, ’Kamu tidak akan ditanyai (bertanggungjawab) tentang dosa yang kami perbuat, dan kami tidak akan ditanyai (pula) tentang dosa yang kamu perbuat.’ Katakanlah, Tuhan kita akan menghimpun kita semua, kemudian menetapkan dengan benar (siapa yang benar dan yang salah) dan Dialah Maha Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Saba 34:24-26).Hubungan persaudaraan antara Muslim dan non-Muslim sama sekali tidak dilarang oleh Islam, selam pihak lain menghormati hak-hak kaum Muslim: ”Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berbuat adil (memberikan sebagian hartamu) kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah 60:8).Pengembangan ”kalimatun sawa” dalam aspek-aspek tertentu yang berkaitan dengan teologi, doktrin, dan ritual, atau akidah dan ibadah tentu saja tidak dapat dijadikan prioritas, karena kemungkinan-kemungkinan celah ke arah itu sukar ditemukan. Dalam aspek-aspek itu yang perlu dibangun adalah tanggung jawab setiap pribadi untuk memiliki keyakinan dan ritual dalam berhubungan dengan Tuhan, tanpa mengganggu orang lain. Inilah yang diisyaratkan Al-Quran dalam ungkapan:”Bagi kamu agamamu dan bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun 109:6).Dan: ”Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak (perlu ada) pertengkaran antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan kita dan kepadaNya-lah kita kembali.” (QS. Asy-Syura 42:15).Bertolak dari kerangka ajaran di atas, kaum Muslimin mengimplementasikan ”teologi kerukunan” Islam sepanjang sejarah Nabi Muhammad sendiri telah memulai pengalaman itu, ketika beliau hijrah ke Madinah, pada 622 M. Pembentukan negara Madinah (Negara Kota), tidak diragui, merupakan momen sejarah sejauh menyangkut implementasi kerangka teologi , doktrin, dan gagasan kerukunan keagamaan Islam terhadap para penganut agama-agama lain, dalam konteks ini, khususnya agama Yahudi dan Nasrani.Momen sejarah itu adalah penetapan Piagam Madinah atau sering disebut Konstitusi Madinah oleh Nabi Muhammad saw. Dalam konstitusi itu, secara tegas dinyatakan hak-hak penganut agama Yahudi untuk hidup berdampingan secara damai dengan kaum Muslim. Kaum Yahudi menerima Konstitusi Madinah secara sukarela. Berkat konstitusi itu, kaum Yahudi terangkat dari sekadar klien kesukuan menjadi warga negara yang sah. Dalam seluruh entitas politik atau negara Islam sepanjang sejarah, kaum Yahudi tidak pernah kehilangan status ini. Posisi mereka tidak bisa dilenyapkan, karena begitulah yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.Di sisi lain, menyangkut kaum Nasrani tidak lama setelah Nabi Muhammad saw. melakukan ”pembebasan” (fath) Mekah, pada 8 H/630 M, sejumlah penganut agama Nasrani di Yaman mengirimkan utusan kepada Nabi saw. di Madinah. Kedatangan mereka adalah untuik menjelaskan kedudukan mereka vis-a-vis negara Islam,atau sebaliknya kedudukan negara Islam vis-a-vis mereka. Delegasi itu kemudian menjadi tamu Nabi di rumahnya, dan bahkan beliau menerima mereka di mesjid. Nabi saw. menjelaskan Islam kepada mereka, dan seperti biasa, mengajak mereka masuk Islam. Sebagian menerima ajakan itu, dan sebagian lagi tetap dalam agama mereka semula. (Nasrani), dalam lingkup entitas politik Islam. Nabi seterusnya mengukuhkan eksistensi mereka sebagai ummah yang khas, seperti juga kaum Yahudi.Apa yang dipraktikkan Nabi Muhammad itu dan diajarkan oleh Al-Quran seperti disebutkan di atas senantiasa menjadi acuan bagi kaum Muslim dalam hidup berdampingan dengan pemeluk-pemeluk agama lain di dunia sejagat. Jika terjadi konflik, di mana kaum Muslim mendapat tekanan, intimidasi, dan sebagainya dari pemeluk agama lain, maka Islam mengizinkan pemeluknya untuk membela diri. Di sinilah termanifestasinya jihad sebagai peperangan untuk mempertahankan diri dalam rangka menegakkan kebenaran kalimat Tuhan. Perintah perang dalam Al-Quran adalah sebagai reaksi, bukan aksi, seperti dinyatakan:”Telah diizinkan perang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha-Kuasa menolong mereka itu. Yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka, tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ’Tuhan kami hanya Allah’ Dan sekiranya Allah tiada menolak sebagian mereka dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyaik disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong diri-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha-Kuasa lagi Maha-Perkasa.” (QS. Al-Hajj 22:39-40).Jadi jelas, Islam menghendaki kedamaian antarmanusia, tidak boleh ada penganiayaan, penindasan, pengucilan dan meremehkan di antar sesama manusia. Peperangan hanya dilakukan sebagai upaya bela diri dan untuk mengenyahkan tekanan-tekanan dan penganiayaan-penganiayaan dalam masyarakat. Oleh sebab itu, Al-Quran menganjurkan untuk tidak saling mencurigai, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tidak menggunjing (QS. Al Hujurat 49:12), karena semuanya itu dapat mengganggu berjalannya toleransi.Demikian, gambaran global ajaran Islam. Semoga ada manfaatnya bagi segenap Muslim dan para pemeluk agama lain, untuk mengawali pengenalan terhadap sejarah dan ajaran Islam, amin ya Rabbal’alamin!Sumber : Muslim Tionghoa. Com

[+/-] Selengkapnya...

etos kerja dalam islam

ETOS KERJA DALAM ISLAM  “Dialah Yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk:5)Islam menghendaki setiap individu hidup di tengah masyarakat secara layak sebagai manusia, paling kurang ia dapat memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang dan pangan, memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahliannya, atau membina rumah tangga dengan bekal yang cukup. Artinya, bagi setiap orang harus tersedia tingkat kehidupan yang sesuai dengan kondisinya, sehingga ia mampu melaksanakan berbagai kewajiban yang dibebankan Allah serta berbagai tugas lainnya. Untuk mewujudkan hal itu, Islam mengajarkan, setiap orang dituntut untuk bekerja atau berusaha, menyebar di muka bumi, dan memanfaatkan rezeki pemberian Allah SWT.Kata “bekerja” dalam ayat di atas mengandung arti sebagai suatu usaha yang dilakukan seseorang, baik sendiri atau bersama orang lain, untuk memproduksi suatu komoditi atau memberikan jasa. Kerja atau berusaha merupakan senjata utama untuk memerangi kemiskinan dan juga merupakan faktor utama untuk memperoleh penghasilan dan unsur penting untuk memakmurkan bumi dengan manusia sebagai kalifah seizin Allah.Ajaran Islam, menyingkirkan semua faktor penghalang yang menghambat seseorang untuk bekerja dan berusaha di muka bumi. Banyak ajaran Islam yang secara idealis memotivasi seseorang, seringkali menjadi kontra produktif dalam pengamalannya. Ajaran “tawakkal” yang seringkali diartikan sebagai sikap pasrah tidaklah berarti meninggalkan kerja dan usaha yang merupakan sarana untuk memperoleh rezeki. Nabi Muhammad SAW, dalam sejumlah hadits, sangat menghargai “kerja”, seperti salah satu haditsnya yang berbunyi, “Jika kalian tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang.” Hadits di atas sebenarnya menganjurkan orang untuk bekerja, bahkan harus meninggalkan tempat tinggal pada pagi hari untuk mencari nafkah, bukan sebaliknya pasrah berdiam diri di tempat tinggal menunggu tersedianya kebutuhan hidup. Hal ini dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW yang berdagang lewat jalan darat dan laut dengan gigih dan ulet. Mereka bekerja dan berusaha sesuai dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing.Bahkan untuk memotivasi kegiatan perdagangan (bisnis), Rasulullah SAW bersabda: “Pedagang yang lurus dan jujur kelak akan tinggal bersama para nabi, siddiqin, dan syuhada.” (HR Tirmidzi). Dan pada hadits yang lain Rasulullah SAW menyatakan bahwa: “Makanan yang paling baik dimakan oleh seseorang adalah hasil usaha tangannya sendiri.” (H.R. Bukhari)Ajaran Islam, sangat memotivasi seseorang untuk bekerja atau berusaha, dan menentang keras untuk meminta-minta (mengemis) kepada orang lain. Islam tidak membolehkan kaum penganggur dan pemalas menerima shadaqah, tetapi orang tersebut harus didorong agar mau bekerja dan mencari rezeki yang halal sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, “Bila seseorang meminta-minta harta kepada orang lain untuk mengumpulkannya, sesungguhnya dia mengemis bara api. Sebaiknya ia mengumpulkan harta sendiri.” (H.R. Muslim). Oleh karena itu, Islam, memberikan peringatan keras kepada yang meminta-minta (mengemis), sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim, bahwa mengemis kepada orang lain adalah tindakan zalim terhadap Rabbul’alamin, hak tempat meminta, dan hak pengemis itu sendiri.Tindakan zalim terhadap hak Rabbul’alamin artinya meminta, berharap, menghinakan diri, dan tunduk kepada selain Allah. Ia meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, mempersembahkan sesuatu bukan kepada yang berhak, dan berlaku zalim terhadap tauhid dan keikhlasan. Berlaku zalim terhadap tempat meminta artinya menzalimi orang yang diminta sebab dengan mengajukan permintaan, ia menghadapkan orang yang diminta kepada pilihan sulit antara memuhi permintaannya atau menolaknya. Jika orang itu terpaksa memnuhi permintaanya, ada kemungkinan disertai dengan rasa dongkol. Namun bila tidak memberi, orang itu akan merasa malu. Sedangkan berlaku zalim terhadap diri sendiri artinya seorang pengemis menghina diri sendiri, menghamba bukan kepada Sang Pencipta, merendahkan martabat diri, dan rela menundukkan kepala kepada sesama makhluk. Ia menjual kesabaran, ketawakkalan, dan melalaikan tindakan mencegah diri dari mengemis kepada orang lain.Islam menuntun setiap orang untuk mendayagunakan semua potensi dan mengarahkan segala dayanya, betapa pun kecilnya. Islam melarang seseorang mengemis sedangkan ia mempunyai sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk membuka peluang kerja yang akan mencukupi kebutuhannya. Islam mengajarkan, bahwa semua usaha yang dapat mendatangkan rezeki yang halal adalah sesuatu yang mulia, walaupun rezeki itu diperoleh dengan susah payah daripada mengemis dan meminta-minta kepada orang lain. Islam membimbing seseorang agar melakukan pekerjaan sesuai dengan kepribadian, kemampuan, dan kondisi lingkungannya, serta tidak membiarkan si lemah terombang-ambing tanpa pegangan..Faktor utama untuk kembali kepada ajaran motivasi Islam yang berorientasi kepada falah oriented, yakni menuju kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat, adalah membangkitkan kembali semangat ukhuwah islamiyah di antara kita. Hal ini merupakan tugas kita semua secara bersama-sama sebagai umat Muslim yang peduli terhadap keluarga kita umat Islam di seluruh jagad raya agar tidak tertinggal dan dapat “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” dengan umat lainnya di muka bumi ini. Dan, terakhir, perlu kita sadari, bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib kita tanpa kita sendiri mengubah nasib kita, dan oleh karena itu kita harus menjaga dan meningkatkan etos kerja kita agar kita tidak tertinggal oleh yang lain, sebagaimana firman Allah SWT:“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehinga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS.13/ ar-Ra’du: 1)   

[+/-] Selengkapnya...

ULER LAN TAWON

ULER LAN TAWONUler lan tawon lagi padha dolanan ing wit kembang srengenge. Tawon kuwi kewan sing jail, senenge moyoki kancane.“He, ler, awakmu kok nggilani temen. Kae delengen, bocah-bocah padha wedi, gila nalika weruh awakmu.”Krungu celathune mitrane mau, uler dadi susah. Nanging isih bisa nyauri tawon.“Lha kepriye ta won, kabeh mau kang nitahake rak Gusti Allah SWT.”E, e, tawon durung gelem nrima pambelane uler, malah tambah moyoki.“Ler,ler, gaweyanmu kuwi apa ta, saliyane mangani godhong, ngrugekake manungsa ora ana maneh. Delengen wit-witan kae, godhonge padha brindhil ora bisa kembang ndadekake ora metu wohe.”“Lha kepriye, aku ki ya mung doyan mangan godhong.” Sumaure uler nglenggana.Beda karo aku, bisa ngrewangi manungsa kanthi mangan sarining kembang, aku bisa gawe madu, coba kowe bisa ora gawe seneng atine bocah!” celathune katon sombong.“Ya wis saiki aku arep pasa. Aku ora arep mangan godhong.”“Pancen kudu mengkono ler.”Tawon lunga mabur sinambi ninggalake uler kang katon thenger-thenger. Wiwit dina iku dheweke pasa. Ora mirasa wis ganep sesasi anggone pasa. Dumadakan ana owah-owahan ing awake uler, malih dadi enthung. “Enthung-enthung endi elor endi kidul.Enthung-enthung endi elor-endi kidul.Ger-ger mencok pager.Ger-ger mencok pager.”Uler sing wis malih dadi enthung durung trima. Dheweke isih nyuwun marang Gusti Allah SWT supaya diparingi awak kang endah lan disenengi bocah akeh. Gusti Allah ngabulake panyuwune uler. Ora wetara suwe awake metu sikile telung pasang, banjur metu sungute loro cacahe. Atine bungah banget nalika gegere thukul elare. Elare mau werna-werna yaiku wungu campur kuning, biru katon endah banget. Rumangsa duwe elar, uler sing wis malih wujud mau banjur mabur kleper, nggoleki tawon. Sawetara tawon gumun ana kewan endah marani dheweke.“Sapa kowe, elarmu endah merak ati ?”“Won apa kowe lali karo aku ?”“Oh, kok kaya swarane uler!”“Iya,aku uler. Aku nuruti welingmu, aku pasa banjur malih iki.” Coba bocah-bocah kae apa isih wedi karo aku ?” Kupu banjur mabur marani bocah-bocah kang lagi padha dolanan ing taman.“He delengen ana kupu, ana kupu !” Panyurake bocah-bocah kanthi seneng banjur kepengin ngencup kewan endah mau. “Oh, jenenge saiki kupu, “ celathune tawon sombong.“Ayo padha diencup !”Kupu kuwi tak encupeMung abure ngewuhakeNgalor ngidul ngetan bali ngulonMrana-mrene mung saparan-paranSapa bisa ngencupakeMentas mencok jegregBanjur mabur kleperSopo wae kang poso nganti temenanan lan njaluk marang gusti ALLAH SWT, insya ALLAH bakal di ijabahi. Kaya contone uler lan tawon maeng. Muga kito saged ngambil hikmah sangking ceritane uler lan tawon. Amiiiin……

[+/-] Selengkapnya...

pacaran dalam islam

PACARAN DALAM ISLAM
Dalam ajaran Islam sesungguhnya istilah pacaran itu tidak ada, yang ada hanyalah istilah ta’aruf yaitu perkenalan antara calon istri dan calon suami. Tetapi mungkin disebabkan oleh semakin berkembangnya teknologi sehingga pergaulan semakin luas dan berkembang sehingga banyak orang yang setuju dengan pacaran. Hal ini juga mungkin disebabkan karena Indonesia bukan negara Islam, sehingga peraturan / hukum-hukum islam di Indonesia tidak begitu kuat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tidak seperti di negara Islam lainnya seperti Arab Saudi. Serta tuntutan dan perkembangan zaman yang membuat sistem /cara didik dan pergaulan pada zaman “Siti Nurbaya” tidak bisa diterapkan lagi dalam kehidupan zaman sekarang.

Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, bukan masa transisi yang selama ini digaungkan. Karena mereka dicap tengah mengalami kegamangan, akibatnya, sebagian remaja yang sewaktu kanak-kanak telah dididik dengan baik oleh orangtuanya merasa perlu mencari identitas baru, identitas yang berbeda dari yang mereka miliki sebelumnya. Apa akibatnya ? Ada remaja kita yang terjebak dalam arus coba-coba. beberapa remaja putri mencoba berbagai dandanan, make up dan aksesoris yang menyeret mereka pada perilaku konsumtif dan kecenderungan tabarruj, sementara yang putra mulai membolos sekolah dan merokok. Beberapa mencandu narkoba dan bergaul terlalu bebas.

Dalam Islam, masa remaja berarti mulainya masa akil baligh. Keadaan fisik, kognitif (pemikiran) dan psikososial (emosi dan kepribadian) remaja berbeda dengan keadaan pada tahap perkembangan lain. Karena sudah baligh, mereka menanggung kewajiban beribadah wajib. Kewajiban menunaikan ibadah wajib ini ditunjang oleh perubahan raga yang makin menguat dan membesar, sekresi hormon baru, dan perubahan taraf berfikir mereka. Namun kematangan organ internal tubuh mereka tidak serta merta membuat mereka lebih matang perasaan dan pemikirannya.

Secara fisik, remaja mampu melaksanakan puasa dan shalat, maupun perjalanan haji, walaupun umumnya mereka belum memiliki kemandirian untuk membayar sendiri zakatnya. Secara kognitif, remaja mampu memaknai makna yang mendalam dari dua kalimat syahadat. Remaja makin mampu menangkap dan memahami konsep-konsep abstrak yang sebelumnya hanya mereka pahami sebagai pengetahuan satu arah. Mereka mampu memaknai ayat dan hadits-hadits yang mereka pelajari sewaktu kecil, dan mampu menangkap fenomena alam sebagai bukti dari keberadaan ALLAH.

Bagaimana pementor dapat membantu remaja yang dibinanya ?
Pertama, mereka harus diingatkan pada fitrah keislamannya. Tingkatkan keimanan mereka, Buat mereka nyaman berIslam, bersentuhan langsung dengan nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam Islam dan buat mereka patuh akan kewajiban sebagai seorang muslim dengan cara-cara yang baik.

Kedua, bantu remaja untuk mengerti perubahan-perubahan yang dialaminya. Hormon-hormon baru yang mereka miliki menghasilkan dorongan-dorongan fisik yang harus mereka kelola. Mentor dapat membantu mereka untuk menumbuhkan kendali diri (self control) yang Islami. Ajarkan bahwa wudhu dapat menurunkan kemarahan dan meredam emosi, shalat bisa mencegah mereka dari perbuatan keji, dan puasa dapat mematangkan emosi dan menumbuhkan kemandirian mereka. Tumbuhkan Izzah (kebanggaan) mereka sebagai muslim. Dorong mereka untuk menjaga kesehatan, mengapai prestasi, sehingga mereka mampu menjadi qudwah di lingkungannya.

Ketiga, dekatkan mereka pada Al Qur’an. Buat mereka suka berinteraksi dengan Al Qur’an dan terbiasa. Kedekatan remaja dengan Al Qur’an akan menjaga mereka dari pengaruh buruk.

Keempat, tumbuhkan Muraqabah mereka pada ALLAH. Ingatkan mereka untuk takut pada ALLAH dan pengawasannya yang tak pernah henti, tanamkan rasa malu dan ajarkan tentang akhlak tehadap diri sendiri. Mentor dapat lebih membantu dengan memberikan contoh-contoh perilaku yang terpuji yang bisa mereka ikuti
Membahas tentang remaja tidak ada habis -habisnya. Membina remaja tidak ada henti-hentinya. Kita mengharapkan ALLAH dapat melapangkan dada-dada mereka untuk mau menerima hidayah yang datang melalui lisan kita, memudahkan usaha kita, mengeratkan hati kita dan mereka, dan semoga, walaupun mungkin lama, ALLAH menggabungkan kita dan mereka dalam barisan pengemban risalahNya. Amiin Yaa Rabbal ‘alamin.



ERY SUSANTO (DLANGGU- MOJOKERTO)

Telp : (0321) 3356179
E mail : erysusanto901@yahoo.com
Fs : erysusanto901@yahoo.com

[+/-] Selengkapnya...